29 Januari 2008

Ulasan

Tak Hanya Pilihan Tanpa Halangan

Sore baru saja hadir, semilir anginnya terasa lembut membelai wajah perempuan itu. “Oh… inilah kuasa Allah yang teramat besar bagi manusia” bisik hatinya. Dan memang sangat besar kuasa Tuhan atas manusia serta seluruh isi alam raya yang ada ini.
Aisya namanya, gadis cantik yang baru saja meraih gelar sarjana komputer dari salah satu Universitas Swasta di Kota Atlas. Pintar, santun, dan riang, itulah kesan yang telah melekat sebagai penghargaan dari teman-teman atas sikapnya selama ini. Namun entahlah, sore ini tak terlihat keriangan diwajahnya. Air matanya serus mengalir, menghanyutkannya pada masalah yang akhir-akhir ini datang. Begitulah….
Aisyah, masa studi telah selesai dan beranjak pada jenjang yang lain sebagai bagian dari kehidupannya. Dan itulah masalahnya. Dua hari yang lalu, ia datang kesebuah perusahaan untuk prases wawancara, setelah sebelumnya ia berhasil lolos dalam tahap administrasi serta tes tertulis. Tidak begitu sulit, dan ia yakin dapat lolos pada tahap terakhir ini. Tak ada kesulitan memang, lancar dan teramatat menyenangkan. Bicara tentang wawasan pemahan internal perusahaan, kemudian teknis kerja yang akan dijalankan, hingga masalah penentuan gaji, semua teratasi tanpa kendala yang berarti. Namun ada satu yang sungguh terasa memukul batinnya. Perusahaan menanyakan kesediaan untuk melepas jilbab yang selama ini melekat pada dirinya, syarat mutlak yang harus dipenuhi jika ingin bekerja disitu, dengan posisi yang bagus serta gaji yang cukup.
Seekor burung melintas di angkasa, ada kebebasan dari kepakan sayap yang melambungkan tubuhnya. Aisya terpana, melihat kebebasan burung dan ketaatannya pada Allah sang pencipta. “Betapa tenang burung itu” bisik hatinya. Kembali Ia tenggelam dalam dalam konflik batin dan akal. Bagaimanapun Aisya membutuhkan pekerjaan itu, sangat! Karena kini dialah harapan keluarga, yang dituntut mampu menopang biaya pendidikan adik-adiknya. Siapa lagi? Ayahnya telah meninggal dunia, sedang sang ibu kini telah rapuh dimakan usia.
Ia masih tetap termenung diteras rumah. Duduk di atas kursi bambu dibawah pohon mangga yang belum berbuah. Hatinya terasa nyilu, himpitan masalah yang kini dihadapinya. Besok kepastian itu harus diambil, melepaskan jilbab demi pekerjaan yang benar-benar ia butuhkan. Jilbabnya bergerak ditiup angin, seperti gelombang laut yang menenangkan bila dipandang. Oh, Aisya….
Haruskah ia melepas jilbabnya? Bagaimana ia akan mempertanggung jawabkan semua itu pada Allah nantinya? Tapi ia juga membutuhkan pekerjaan itu, sangat membutuhkan! Belum tentu ada kesempatan kedua esok hari, bekerja di perusahaan besar, sebagai sekretaris dengan gaji awal 1,5 juta perbulan. Betapa menggiurkan, apalagi melihat kodisinya saat ini. Ibunya mulai sakit-sakitan, sedang dua adiknya membutuhkan biaya untuk kelanjutan studi mereka. Jadi kenapa tidak diambil? Pertimbangan-pertimbangan itu terus berkecamuk. Air matanya kembali menetes, ia menangis sejadi-jadinya, memohon kepada Tuhan, jalan keluar atas apa yang sedang ia hadapi kini.
Senja memang mulai menua, dari arah masjid terdengar lantunan surat al-Baqarah yang menghangatkan jiwa-jiwa yang mendengar. Sungguh sangat indah kalimat yang terukir, pilihan kata-kata terbaik yang mampu meneguhkan hati yang lemah, sekaligus menenangkan jiwa yang gelisah. “Ulaa-ikalladziinashtarawu….. “ayat 86 memasuki telinga Aisya, dia terperanjat, seakan teringat hal penting yang lama tak diingatnya.
“Aatagfirullahal ‘Adzim ya Rab..” Dadanya bergetar, ada kekuatan yang muncul tiba-tiba. Ia malu…. Ayat itu menegur kebimbangannya. “Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan adzabnya, dan mereka tidak akan ditolong”
Oh, hampir-hampir ia gadaikan aqidahnya demi dunia yang fana ini. Ia tersadar bahwa Allahlah yang mengatur rizqi manusia, jadi kenapa ia harus berpaling dari perintahnya untuk mendapatkan rizqi itu., bukankah malah terbalik? Harusnya ia mengejar cinta Allah agar Dia memudahkan rizkinya, jadi kenapa meski bingung?. Pikian-pikiran itu memenuhi otaknya, ada yang terasa segar kini. Aisya telah menemukan jalannya, aqidah ini harus dipegang. Jilbab ini tak akan ditangglakan, buakankah kehidupan dunia ini Allah yang mengaturnya? Jadi kenapa kita justru menyakiti-Nya untuk mendapatkan kehidupan ini? Ia tertawa sendiri, menyadari betapa kebimbangannya selama ini tak beralasan. “Alhamdulilillah…” bisiknya Senja hampir hilang, menyisakan keyakinan yang bulat bagi Aisyah. Ia tersenyum. Angin sore mengalun, sungguh kuasa Allah meliputi jagat raya dan isinya.

Mitos

Simbolisasi Keyakinan Yang Tidak Berdasar

Ada harapan besar dari setiap hal yang dilakukan oleh orang tua demi menyambut kelahiran buah hatinya. Namun seringkali hal itu justru mengarah pada kesesatan-kesesatan yang jelas-jelas dibenci oleh Allah Ta’ala. Diperlukan ketelitian dalam memilah dan memilih mana yang tepat untuk dilakukan dengan bersandar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Anak adalah anugrah yang diberikan Allah, sebagai satu amanah yang harus dijalankan dengan baik. Kehadiran anak bagi orang tua, terlebih anak pertama mampu membawa kenambah keharmonisan hubungan dalam keluarga. Untuk itu, orang tua seringkali melakukan berbagai upaya agar anak yang dilahirkan memperoleh kemudahan baik dari proses kelahiran hingga pada kulitas fisik ataupun mental sang anak. Tidak jarang, upaya yang dilakukan oleh terkesan “asal manut” pada orang-orang yang dianggap lebih tua atau lebih pandai, tanpa memahami lebih dalam makna dan tujuan upaya tersebut.
Kehadiran anak yang masih dalam kandungan (bayi) menjadi perhatian khusus bagi calon orang tua. Dari segi kesehatan, calon ibu senantiasa dengan sabar memeriksakan kandungannya ke dokter secara periodik agar kesehatan bayi terjaga. Tidak cukup disitu, berbagai rangkaian upara pada bulan-bulan tertentu pun disiapkan demi keyakinan membawa pengaruh positif bagi sang bayi yang masih dalam kandungan itu.
Di jawa, proses kehamilan mendapat perhatian tersendiri bagi masyarakat setempat. Harapan-harapan muncul terhadap bayi dalam kandungan, agar mampu menjadi generasi yang handal dikemudian hari. Untuk itu, dilaksanakan beberapa tradisi yang dirasa mampu mewujudkan keinginan mereka terhadap anak tersebut. Diantara tradisi tersebut adalah upacara mitoni. Mitoni sendiri berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Ini dimaksudkan bahwa mitoni adalah ritual yang dilaksanakan pada saat bayi menginjak usia tujuh bulan dalam kandungan. Ada keyakinan bahwa upacara ini berpengaruh terhadap keselamatan bagi sang ibu dan anak yang ada dalam kandungan. Secara umum, tradisi mitoni ini terdiri atas beberapa tahapan, diantaranya upacara siraman. Tahap ini dimaksudkan sebagai simbol pembersihan atas segala kejahatan dari bapak dan ibu bayi. Setelah siraman, ritual kemudian dilanjutkan dengan memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami. Masyarakat setempat meyakini bahwa hal itu merupakan perwujudan harapan agar proses kelahiran sang bayi dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun. Acara kemudian dilanjutkan dengan memasukkan kelapa gading muda dari perut atas sang ibu hingga kebawah dengan maksud untuk menghindari rintangan saat kelahiran sang bayi nantinya. Selain itu, dalam proses ritual mitoni ini terdapat pula proses ganti baju. Sang ibu akan berganti pakaian dalam tujuh motif, kemudian para tamu diminta untuk memilih salah satu dari tujuh kain tersebut yang cocok untuk sang ibu. Lalu, prosesi berlanjut ke pemutusan lawe/ lilitan benang atau janur oleh sang ayah. Tujuannya juga sama, agar proses kelahiran nanti berjalan lancar. Dalam upacara mitoni inipun terdapat acara pemecahan gayung atau periuk, dengan maksud ketika nanti sang ibu mengandung kembali tidak menemukan kendala yang berarti. Setelah itu, sang ibu diminta untuk meminum jamu sebagai sorongan/ dorongan dengan maksud agar bayi mampu keluar dengan cepat dan lancar seperti didorong dari dalam. Setelah semua prosesi tersebut berjalan, acara mitoni kemudian ditutup dengan proses mencuri telor. Seorang bapak berharap proses kelahiran sang anak mampu berjalan cepat sebagaimana kecepatan pencuri ketika beraksi.
Mitoni tidak bisa dilakukan pada hari-hari biasa. Dibutuhkan tanggal dan hari yang bagus menurut perhitungan jawa agar tak ada halangan yang menimpa nantinya. Tidak hanya itu, prosesi ini juga membutuhkan tempat khusus dalam melaksanakannya. Umumya, acara mitoni dilakukan pada siang atau sore hari di pasren atau tempat bagi para petani memuja dewi Sri. Namun karena saat ini sulit menemukan tempat tersebut, maka pelaksanaan mitoni dapat dilakukan di ruang tengah atau ruang keluarga yang cukup untuk menampung kehadiran tamu.

Harapan berbuah dosa
Malihat prosesi dan keyakinan diatas, para ulama memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Bila mitoni itu diyakini dan atau dikaitkan dengan agama, sehingga menyebabkan ketakutan jika tidak melaksanakannya, maka hal ini jelas menyimpang dari syariat islam. Karena Allah tidak mensyariatkan hal tersebut sehingga akan mengarah pada upaya muhdatsatul umur atau menambahi agama dan tergolong bid’ah yang sesat.
Akan tetapi, jika acara ini tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah maka para ulama mempunyai pendapat yang berbeda. Sebagian ulama melarang jenis ritual seperti ini, karena tidak ada syariat yang mendasarinya. Tujuannya tak lain untuk membendung rusaknya agama dari munculnya bid’ah yang jelas-jelas dilarang agama. Karena bagaimanapun, Islam telah disempurnakan bagi umat manusia sebagai jalan yang lurus menuju ridho Allah Ta’ala. Dari situ dapat diambil kesimpulan, bahwa harapan yang terkandung dalam prosesi mitoni mampu dicapai dengan ibadah yang telah ditetapkan dalam syariat. Jika dilihat lebih dalam, pelaksanaan mitoni ini syarat dengan keyakinan-keyakinan yang mengarah pada terbentuknya penyandaran diri selain kepada Allah. Ini dapat dilihat dari penentuan hari dalam pelaksanaannya, proses siraman untuk menghilangkan kejahatan hingga simbol mencuri telor demi cepatnya proses kelahiran. Keyakinan-keyakinan ini jelas tidak berdasar, sehingga mampu menyeret pelakunya pada lembah syirik yang jelas-jelas dibenci oleh Allah.
Meski begitu, terdapat pula beberapa ulama yang memandang bahwa tidak semua bentuk aktivitas budaya masyarakat itu harus ditinggalkan, selama tidak mengandung unsur syirik, dosa, mudharat dan bertentangan dengan agama. Sehingga, jika pelaksanaan mitoni ini mampu menghindari unsur-unsur diatas, maka hal itu tidak dilarang.

Islam Hadir Dengan Kesempurnaan Bagi UmatSemua kembali kepada dasar yang ada untuk menentukan hukum tentang masalah mitoni ini. Alasan yang melandasi sebagian ulama dalam melarang ritual ini sangat jelas, terlebih jika terjadi benturan-benturan terhadap aturan syariat dalam prosesinya. Namun begitu, juga terdapat ulama yang memperbolehkan pelaksanaan ritual mitoni, dengan catatan menghindari unsur-unsur yang dilarang agama. Hanya saja, jika meninjau pelaksanaan mitoni yang telah berlaku, maka sangat jelas unsur-unsur yang mengarah pada kesyirikan di dalamnya.

IPTEK

Prasasti Ebla, Bukti Utusan Allah Telah Tiba

Keberadaan sejarah, seringkali mampu memberi gambaran pada masyarakat saat ini dalam melihat lebih dalam apa yang telah berlalu sebelumnya. Dalam hal ini, sejarah diharapkan mampu menjadi bukti kebenaran tentang agama yang ada pada masa itu berserta utusan yang membawanya.

Penemuan prasasti Ebla oleh seorang arkeolog pada tahun 1975 telah menyita perhatian banyak kalangan. Hal ini didorong pada informasi yang terkandung dalam memperjelas letak geografis kaum-kaum yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Ebla merupakan kerajaan yang ada sekitar tahun 2500 SM. Wilayahnya meliputi ibukota Syria, Damaskus dan Turki bagian tenggara. Setelah meraih puncak kejayaan dibidang kebudayaan dan ekonomi, kerajaan ini pun hilang dari sejarah. Melihat bukti-bukti yang ditemukan, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Ebla memiliki peradaban yang tinggi, dengan membangun lembaga-lembaga arsip negara, mendirikan perpustakaan-perpustakaan serta mencatat aneka perjanjian perdagangan secara tertulis. Bahkan mereka juga mempunyai bahasa sendiri yang disebut Eblaite.
Dalam penemuan itu, terdapat sekitar 20.000 prasasti dan penggalan tulisan paku yang berhasil diselamatkan. Angka ini lebih banyak dari penemuan-penemuan para arkeolog selama 3000 tahun terakhir. setelah melalui berbagai upaya, akhirnya tulisan-tulisan paku tersebut mampu diterjemahkan oleh spesialis penerjemah naskah kuno dari Universitas Roma yang berkebangsaan Italia, Giovanni Pettinato. Hasil dari terjemahan tersebut menyebutkan nama-nama Nabi yang terdapat dalam kitab suci : Nabi Ibrahim (Ab-ra-mu), Nabi Dawud (Da-u-dum) dan Nabi Ismail(Ish-ma-il).
Berangkat dari hal itu, penemuan prasasti Ebla tidak hanya menarik minat para arkeolog namun juga dari kalangan agamawan. Hal ini disebabkan karena nama-nama Nabi tersebut muncul pada zaman 1500 tahun sebelum Taurat., sebagai bukti bahwa Nabi Ibrahim dan agama yang dibawanya telah ada sebelum munculnya Taurat. Tak hanya itu, dalam prasasti tersebut juga disebutkan hal-hal lain dan nama-nama tempat yang dengannya dapat diperoleh informasi tentang kehidupan sosial penduduk Ebla sebagai pedagang yang berhasil. Nama-nama kota tersebut diantaranya Sinai, Gaza, dan Yerussalim. Ini menunjukkan bagaimana hubungan baik telah terbentuk antara penduduk Ebla dengan masyarakat disekitarnya dalam bidang perdagangan dan kebudayaan, sebelum akhirnya hilang dari peradaban.
Yang menarik untuk dicermati adalah, keberadaan nama-nama ini sebenarnya baru muncul dalam kitab suci yang disampaikan oleh para nabi dan belum pernah terdapat dalam naskah-naskah sebelumnya. Disebutkan pula dalam prasasti tersebut, nama-nama wilayah yang terdapat dalam kitab Suci Al-Qur’an seperti Sodom dan Gomorrah, yakni tempat nabi Luth mendakwahkan agama Tauhid yang terletak di pesisir Laut Mati. Ini menjadi bukti bahwa perjuangan para nabi dalam mendakwahkan risalah agama yang benar itu telah mencapai wilayah tersebut.
Dalam tulisannya, majalah Reader’s Digest mengemukakan, terdapat pergantian agama dari penduduk Ebla semasa pemerintahan Raja Ebrum, kemudian masyarakat mulai menambahkan imbuhan di depan nama-nama mereka dalam rangka meninggikan nama Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah telah mengirim utusan-utusan kepada penduduk Ebla agar menyeru kepada agama yang benar, yakni Islam sebagaimana utusan pada kaum yang lain. Manusia-manusia pilihan tersebut, berupaya secara aktif melakukan ekspansi hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau dalam menegakkan cahaya islam di bumi Allah ini. Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang ada, amin.[el_Sake]