Keduanya selalu berkorban untuk kepentingan orang lain, jiwa dan raganya dengan rela dipersembahkan untuk kemaslahatan umat, bukan rahasia lagi. Tetapi di balik kedua istilah itu pahlawan dan mujahid punya sisi perbedaan yang mencolok
Bukan rahasia lagi kalau kita lebih memihak pahlawan daripada seorang mujahid. Selama ini kita didoktrin dengan doktrin nasionalis sekuler kalau para pahlawan yang membela tanah air itulah yang harus kita hormati, sebab mereka berjuang untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Sedangkan mujahid atau orang yang berperang di jalan Allah untuk membela keyakinannya ataupun untuk tegaknya hukum Islam di muka bumi, sama sekali tak pernah diberikan apresiasi yang sama.
Acapkali kita justru mendengar kalau mujahid itu identik dengan teror, pedang ataupun stigma negatif lainnya, media turut menumbuh suburkan pemahaman seperti ini, kita tak lagi bisa membedakan mana yang benar-benar berjuang di jalan Allah, serta manakah yang berjuang untuk membela semangat fanatisme primordialnya seperti suku, agama dan bangsanya.
Tengoklah bagaimana kasus-kasus seperti Abubakar Ba’asyir terjadi distorsi besar-besaran oleh media. Beliau yang membela tegaknya syariat Islam di muka bumi justru dituduh sebagai teroris dan akhirnya dipenjara, hal itu juga dialami oleh Saddam Husein, Buya Hamka, Sayyid Quthb dan orang-orang lurus lainnya, mereka dibenci karena berusaha untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi, sementara orang-orang di sekeliling mereka adalah kaum nasionalis sekuler yang lebih memilih hukum manusia yang penuh kelemahan daripada hukum Allah.
Kita sebagai muslim pun seringkali tidak paham dan juga berlaku sama kepada orang-orang lurus tersebut, karena kita tinggal di negara yang berhaluan nasionalis, maka tiap hari kita dicekoki dengan pemahaman bahwa pahlawan yang membela tanah air itulah yang harus kita sanjung sedangkan para mujahid yang lurus itu kita hujat beramai-ramai.
Sebetulnya ada perbedaan yang sangat tajam antara pahlawan dan mujahid. Jika pahlawan itu berjuang untuk membela tanah air dan bangsanya, sedangkan mujahid itu berjuang agar bagaimana hukum Allah atau syariat Islam itu tegak di muka bumi. Tidak hanya itu saja perjuangan pahlawan akan sia-sia jika apa yang diperjuangkan hanyalah untuk tanah air dan bangsanya bukannya untuk agama Allah dan keyakinannya, apalagi jika yang dibela adalah ideologi manusia seperti nasionalisme yang mempunyai landasan sekularisme—salah satu proyeknya adalah untuk menjauhkan hukum Allah agar tidak lagi dipeluk manusia
Allah berfirman di dalam Al Quran untuk menjelaskan perbadaan antara pahlawan dan mujahid, pahlawan perjuangannya dimata manusia meskipun mendapat bintang jasa, tetapi di hadapan Allah tidak mendapatkan pahala apapun karena Ia memperjuangkan sesuatu tidak untuk menegakkan hukum Allah. Sedangkan mujahid meskipun tidak mendapat apresiasi yang sama atau terhina di mata manusia, tetapi di hadapan Allah mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah, kerena mereka berjuang demi tegaknya syariat Islam di muka bumi. Allah berfirman “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah SWT sedangkan orang-orang kafir berperang di jalan taghut. Sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu sangat lemah” (An Nisa :75) Jadi tak ada gunanya kita memuja pahlawan setinggi langit karena yang mereka bela adalah sekat-sekat primordial kita, yang didalam Islam sebenarnya tak pernah dibedakan, tetapi oleh para pemikir modern justru dihembus-hembuskan dan dimaknai ulang.
Tampilkan postingan dengan label Smart Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smart Muslim. Tampilkan semua postingan
24 Januari 2008
Sikap Tasammuh Menuju Islam Super Power
Eropa dan AS tetap buruk dalam melukiskan citra negatif tentang agama Islam, padahal sejarah membuktikan Barat dan Islam telah ‘bermesraan’ dalam peradaban dan sains, tetapi konflik itu sengaja dipelihara sebab ada kecenderungan Islam mulai mendapat tempat di Eropa
Sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Institute yang belum lama ini melibatkan 14.030 muslim dan non muslim dari 15 negara seperti AS, Cina, India, Indonesia, Jepang, Jerman, Mesir, Nigeria, Pakistan, Prancis, Spanyol, Turki dan sebagainya.
Patut dicatat, hasil temuan itu mengatakan bahwa orang-orang Barat dan Muslim tetap berada dalam prasangka negatif masing-masing Kedua belah pihak umumnya juga menganggap satu sama lain sebagai suka pada kekerasan, tidak toleran, dan kurang menghargai perempuan. Kaum Muslim di Timur Tengah dan Asia juga menganggap orang-orang Barat sebagai immoral dan mementingkan diri sendiri; sementara orang-orang Barat menganggap kaum Muslim sebagai fanatik.
Karena itu, survei juga menemukan, bahwa mayoritas responden menyatakan hubungan Muslim dan Barat sangat jelek. Dan kedua belah pihak saling menyalahkan; responden Muslim menyatakan, pihak Barat bertanggung jawab atas buruknya hubungan kedua belah pihak, sementara pihak Barat menyalahkan kaum Muslim sebagai penyebab buruknya hubungan kedua belah pihak. Dalam wawancara lanjutan, kaum Muslim umumnya memandang sumber buruknya hubungan kedua belah pihak adalah sikap Barat yang terus tidak adil terhadap bangsa Palestina; dan juga karena sikap double standard Barat dan lain-lain.
Survei yang dilakukan oleh Pew Research Institute ini mewakili gambaran dari benturan peradaban yang kerap terjadi antara keduanya (barat dan muslim), opini yang mereka nyatakan di dalam survei tersebut karena pengaruh dari cendekiawan muslim yang belajar di barat yang mempercayai teori-teori barat yang phobi terhadap Islam. Satu contoh saja teori clash civilization dari Samuel Huntington ataupun Orientalismenya Edward W Said, kedua teori itu tumbuh pasca perang salib dan dominasi penjajah kristen (misionaris) terhadap dunia timur. Huntington sendiri dalam Clash of Civilization and the Remaking World Order (1996) menyatakan kalau strategi baru dalam perang salib adalah dengan jalan perang peradaban dan pemikiran. Sedangkan Orientalisme sendiri tumbuh untuk membantu perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah kristen
Di dalam sejarah, perilaku sahabat lebih mencerminkan toleransinya dan sikap perdamaian daripada permusuhan kepada agama lain. Khalifah Umar bin Khattab misalnya sewaktu menerima penyerahan kota Yerusalem dari pengaruh Romawi ke tangan umat Islam bersama panglima perangnya berkunjung ke bukit Zion, tibalah waktunya shalat Zuhur. Uskup Agung Sophranius menawarkan gereja yang terpandang suci oleh dunia Kristen, untuk shahabat Umar dan pengiringnya..Tawaran yang ramah itu disambut sangat baik oleh Khalifah Umar. “Sungguh senang menerima tawaran Tuan. Tetapi kalau shalat disitu, saya khawatir bahwa suatu hari kelak orang Islam akan merampas gereja Tuan guna dijadikan masjid. Karena itu saya shalat disisi gereja Tuan saja” Setelah mengucapkan kata-kata ini Umar kemudian membentangkan sorbannya dan menunaikan shalat Zuhur disisi gereja itu, sambil tak lupa meminta izin kepada uskup Agung. Bandingkan dengan sikap Kristen yang selalu menunjukkan permusuhan di dalam perang salib dari berbagai kurun waktu. Sebagaimana ucapan Gladstone, mantan PM Inggris, penganut gereja Anglikan yang berbicara di depan ratusan parlemen Inggris kala itu"Percuma memerangi ummat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger al-Qur'an. Tugas kita adalah mencabut al-Qur'an di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka," ucapnya. Ucapan Gladstone itu kemudian menjadi rekomendasi penting Kerajaan Inggris tentang bagaimana kiat menundukkan negeri-negeri Islam di wilayah jajahannya. (wiwid prasetyo)
Sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Institute yang belum lama ini melibatkan 14.030 muslim dan non muslim dari 15 negara seperti AS, Cina, India, Indonesia, Jepang, Jerman, Mesir, Nigeria, Pakistan, Prancis, Spanyol, Turki dan sebagainya.
Patut dicatat, hasil temuan itu mengatakan bahwa orang-orang Barat dan Muslim tetap berada dalam prasangka negatif masing-masing Kedua belah pihak umumnya juga menganggap satu sama lain sebagai suka pada kekerasan, tidak toleran, dan kurang menghargai perempuan. Kaum Muslim di Timur Tengah dan Asia juga menganggap orang-orang Barat sebagai immoral dan mementingkan diri sendiri; sementara orang-orang Barat menganggap kaum Muslim sebagai fanatik.
Karena itu, survei juga menemukan, bahwa mayoritas responden menyatakan hubungan Muslim dan Barat sangat jelek. Dan kedua belah pihak saling menyalahkan; responden Muslim menyatakan, pihak Barat bertanggung jawab atas buruknya hubungan kedua belah pihak, sementara pihak Barat menyalahkan kaum Muslim sebagai penyebab buruknya hubungan kedua belah pihak. Dalam wawancara lanjutan, kaum Muslim umumnya memandang sumber buruknya hubungan kedua belah pihak adalah sikap Barat yang terus tidak adil terhadap bangsa Palestina; dan juga karena sikap double standard Barat dan lain-lain.
Survei yang dilakukan oleh Pew Research Institute ini mewakili gambaran dari benturan peradaban yang kerap terjadi antara keduanya (barat dan muslim), opini yang mereka nyatakan di dalam survei tersebut karena pengaruh dari cendekiawan muslim yang belajar di barat yang mempercayai teori-teori barat yang phobi terhadap Islam. Satu contoh saja teori clash civilization dari Samuel Huntington ataupun Orientalismenya Edward W Said, kedua teori itu tumbuh pasca perang salib dan dominasi penjajah kristen (misionaris) terhadap dunia timur. Huntington sendiri dalam Clash of Civilization and the Remaking World Order (1996) menyatakan kalau strategi baru dalam perang salib adalah dengan jalan perang peradaban dan pemikiran. Sedangkan Orientalisme sendiri tumbuh untuk membantu perluasan daerah yang dilakukan oleh penjajah kristen
Di dalam sejarah, perilaku sahabat lebih mencerminkan toleransinya dan sikap perdamaian daripada permusuhan kepada agama lain. Khalifah Umar bin Khattab misalnya sewaktu menerima penyerahan kota Yerusalem dari pengaruh Romawi ke tangan umat Islam bersama panglima perangnya berkunjung ke bukit Zion, tibalah waktunya shalat Zuhur. Uskup Agung Sophranius menawarkan gereja yang terpandang suci oleh dunia Kristen, untuk shahabat Umar dan pengiringnya..Tawaran yang ramah itu disambut sangat baik oleh Khalifah Umar. “Sungguh senang menerima tawaran Tuan. Tetapi kalau shalat disitu, saya khawatir bahwa suatu hari kelak orang Islam akan merampas gereja Tuan guna dijadikan masjid. Karena itu saya shalat disisi gereja Tuan saja” Setelah mengucapkan kata-kata ini Umar kemudian membentangkan sorbannya dan menunaikan shalat Zuhur disisi gereja itu, sambil tak lupa meminta izin kepada uskup Agung. Bandingkan dengan sikap Kristen yang selalu menunjukkan permusuhan di dalam perang salib dari berbagai kurun waktu. Sebagaimana ucapan Gladstone, mantan PM Inggris, penganut gereja Anglikan yang berbicara di depan ratusan parlemen Inggris kala itu"Percuma memerangi ummat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam masih bertengger al-Qur'an. Tugas kita adalah mencabut al-Qur'an di hati mereka. Dan kita akan menang menguasai mereka," ucapnya. Ucapan Gladstone itu kemudian menjadi rekomendasi penting Kerajaan Inggris tentang bagaimana kiat menundukkan negeri-negeri Islam di wilayah jajahannya. (wiwid prasetyo)
Kisah Dokter Neurologi Menemukan Islam
Benar sekali sebuah ungkapan yang menyatakan ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh, sebab pada kenyataanya apa yang kita pelajari tentang segala sesuatu di dunia ini hanya berhenti sampai di permukaan, atau kita tidak dapat menemukan aspek ruhaniyat yang tersimpan di dalamnya.
Celakanya lagi, berbondong-bondong orang barat masuk Islam, dengan jalan yang paling mulia, yakni saat mereka mengkaji disiplin keilmuan yang mereka miliki, maka disitu mereka menemukan kesesuaian antara Islam dan ilmu pengetahuan. Maka Islam yang mereka peluk itupun bukan Islam yang asal-asalan, tetapi Islam yang dipelajari melalui perenungan dan proses berpikir yang teramat panjang sebelum mereka menemukan kebenaran sejati
Tetapi kita yang sudah sedari kecil menjadi muslim, kemusliman kita karena proses sosiologis—kita berada di lingkungan Islami, orangtua kita muslim, maka kitapun menjadi muslim, tak pernah beranjak untuk menemukan Islam seutuhnya, kita tak lagi punya greget, tidak punya harapan dengan keislaman kita, bahkan kita akhirnya tak pernah menemukan sesuatu yang menarik dalam Islam.
Banyak sekali orang barat yang masuk Islam, setelah mempelajarinya. Pada mulanya mereka ingin menemukan kelemahan didalamnya, tetapi justru mereka tidak dapat menyangkal kebenaran Islam didalamnya. Entah itu dari golongan saintis, islamolog, ataupun dokter, yang jelas islam telah merasuki pikiran bawah sadar mereka, menjadi pintu hidayah yang akan terus mereka temukan.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an, “Ahli fikir itu ialah orang-orang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian mereka merenung seraya berdoa, Wahai Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan ini dengan sia-sia dan peliharalah kami dari siksa api neraka” (Ali Imron 191)
Untuk itulah mengapa para ilmuwan, ataupun seniman, ketika mereka berada dalam keadaan beriman, benar-benar menemukan kehadiran Allah di sisi mereka, sebab setiap waktu, dalam keadaan apapun mereka terus berupaya menyingkap ilmu Allah yang masih menjadi misteri. Hal inilah yang dialami oleh seorang dokter neurologi dari Amerika Serikat yang menemukan kebenaran di dalam Islam setelah sebelumnya Ia mempelajari disiplin ilmunya, yakni ilmu syaraf.
Pengalaman esoteris itu berawal dari penyelidikannya yang tak kenal lelah. Saat mengkaji tentang fenomena urat syaraf yang unik Beliau menemukan bahwa terdapat beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki oleh darah, kecuali ketika seseorang itu dalam keadaan sujud (shalat) barulah darah dalam takaran tertentu akan masuk ke dalam urat syaraf tersebut.
Padahal tiap inci otak manusia memerlukan pasokan darah yang cukup untuk berpikir secara optimal, maka bisa dibayangkan sendiri, jika seseorang itu tidak shalat, maka berarti beberapa urat syarafnya ada yang tidak bekerja, sehingga imbasnya juga pada otak kita. Anehnya, menurut dokter itu, ukuran darah yang masuk ke dalam urat syaraf tersebut mengikuti jumlahnya mengikuti kadar seseorang ketika shalat 5 waktu. Begitu mengetahui itu, dokter tersebut masuk Islam dan mengubah paradigma pengobatannya ke pengobatan berdasarkan Al Qur’an.
Nah, kita harus menemukan hal-hal yang baru agar keimanan dan keislaman kita menjadi semakin tebal, sebab kadar iman itu kadang naik dan kadang turun, buatlah sebuah loncatan-loncatan atau terobosan agar kita semakin kukuh dengan keislaman kita, bukannya malah kehilangan gairah dan menjadikan Islam sebagai ibadah ritual semata (with pras)
Istri-Istri Pejuang Muslim
Perannya di belakang layar tak pernah ter-ekspose ataupun ditampilkan dalam buku-buku sejarah, tetapi sama seperti laki-laki, sebetulnya mereka punya peran yang tidak sedikit. Tak hanya mendampingi suami dalam perjuangannya, tetapi mereka juga menentukan sendiri corak perjuangannya
Jika dihitung dengan jari, tak sampai sepuluh kita sudah kesulitan untuk menyebut pejuang wanita itu satu persatu, ini tak lain karena dominasi patriarkhi dalam budaya kita, tetapi jika kita menelisik lebih jauh, sejarah perjuangan mereka tak kalah dengan laki-laki Umumnya mereka bergerak di organisasi. Tahun 1912 berdiri Organisasi Perempuan Poetri Mardika. Ada juga Pawiyatan Wanito di Magelang tahun 1915, Aisyiah di Yogyakarta tahun 1917, Percintaan Ibu kepada Anak Temurun (PIKAT) di Manado tahun 1917, Wanito Hadi di Jepara tahun 1919, Poeteri Boedi Sedjati di Surabaya tahun 1919, Serikat Kaoem Iboe Soematra di Bukit Tinggi tahun 1920.
Ny Ahmad Dahlan
Di antara para aktivis perempuan itu, Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) adalah salah satu aktivis Islam yang menonjol. Ia dari organisasi Aisyiah. Sebelum organisasi perempuan Muhammadiyah ini terbentuk tahun 1917, Nyai Dahlan, sapaan akrabnya, bergiat untuk memberdayakan perempuan sejak tahun 1914. Kala itu, istri pendiri ormas Muhammadiyah ini membangun perkumpulan Sopo Tresno (siapa suka), khusus untuk perempuan. Baru pada tahun 1917, nama perkumpulan itu, berubah menjadi Aisyiah.
Menurut Nyai Dahlan, perempuan adalah patner kaum lelaki. Mereka sendirilah yang harus menentukan dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah kelak, bukan malah ngekor kepada kaum lelaki. Metode pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui forum-forum pengajian.
Ny Rasuna Said
Selain Ny Ahmad Dahlan, tercatat pula Ny Rasuna Said Ia dijuluki ‘singa betina’ karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda. Juga, tercatat sebagai wanita pertama yang terkena speek delict, hukum Kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun bisa ditangkap karena omongan yang merugikan pemerintah. Rasuna juga berguru pada Haji Rasul alias H. Abdul Karim Amrullah, ulama terkemuka di Minangkabau. Di sinilah ia memahami pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir.
Tidak hanya dengan orasi mulut, ia juga berjuang dengan pena. Tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Dalam waktu singkat, tulisan-tulisannya mampu mengobarkan obor pergerakan dan api perlawanan rakyat Minangkabau terhadap penjajah. Ia juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar kewanitaan dan keislaman.
Ny Sholihah Wahid
Perempuan dalam kultur pesantren juga tak mau kalah. Sholihah A. Wahid Hasyim adalah salah satunya. Ia adalah ibu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ia hidup dalam lingkungan pesantren di Jombang, sebagai menantu Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (1926). Ia juga putri Bisri Syamsuri, pemangku salah satu pesantren di Jombang, Jawa Timur. Sholihah ingin mendobrak tradisi perempuan-perempuan pesantren yang apatis dengan politik dan dunia luar. Dan juga menepis stigma-stigma miring seputar peran perempuan pesantren. Sepeninggal suaminya, tahun 1953, ia kian aktif di berbagai organisasi. Antara lain, menjadi pengurus Nahdlatul Oelama Muslimat (NOM), kini Muslimat NU.
Jika dihitung dengan jari, tak sampai sepuluh kita sudah kesulitan untuk menyebut pejuang wanita itu satu persatu, ini tak lain karena dominasi patriarkhi dalam budaya kita, tetapi jika kita menelisik lebih jauh, sejarah perjuangan mereka tak kalah dengan laki-laki Umumnya mereka bergerak di organisasi. Tahun 1912 berdiri Organisasi Perempuan Poetri Mardika. Ada juga Pawiyatan Wanito di Magelang tahun 1915, Aisyiah di Yogyakarta tahun 1917, Percintaan Ibu kepada Anak Temurun (PIKAT) di Manado tahun 1917, Wanito Hadi di Jepara tahun 1919, Poeteri Boedi Sedjati di Surabaya tahun 1919, Serikat Kaoem Iboe Soematra di Bukit Tinggi tahun 1920.
Ny Ahmad Dahlan
Di antara para aktivis perempuan itu, Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) adalah salah satu aktivis Islam yang menonjol. Ia dari organisasi Aisyiah. Sebelum organisasi perempuan Muhammadiyah ini terbentuk tahun 1917, Nyai Dahlan, sapaan akrabnya, bergiat untuk memberdayakan perempuan sejak tahun 1914. Kala itu, istri pendiri ormas Muhammadiyah ini membangun perkumpulan Sopo Tresno (siapa suka), khusus untuk perempuan. Baru pada tahun 1917, nama perkumpulan itu, berubah menjadi Aisyiah.
Menurut Nyai Dahlan, perempuan adalah patner kaum lelaki. Mereka sendirilah yang harus menentukan dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah kelak, bukan malah ngekor kepada kaum lelaki. Metode pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui forum-forum pengajian.
Ny Rasuna Said
Selain Ny Ahmad Dahlan, tercatat pula Ny Rasuna Said Ia dijuluki ‘singa betina’ karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda. Juga, tercatat sebagai wanita pertama yang terkena speek delict, hukum Kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun bisa ditangkap karena omongan yang merugikan pemerintah. Rasuna juga berguru pada Haji Rasul alias H. Abdul Karim Amrullah, ulama terkemuka di Minangkabau. Di sinilah ia memahami pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir.
Tidak hanya dengan orasi mulut, ia juga berjuang dengan pena. Tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Dalam waktu singkat, tulisan-tulisannya mampu mengobarkan obor pergerakan dan api perlawanan rakyat Minangkabau terhadap penjajah. Ia juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar kewanitaan dan keislaman.
Ny Sholihah Wahid
Perempuan dalam kultur pesantren juga tak mau kalah. Sholihah A. Wahid Hasyim adalah salah satunya. Ia adalah ibu Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ia hidup dalam lingkungan pesantren di Jombang, sebagai menantu Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (1926). Ia juga putri Bisri Syamsuri, pemangku salah satu pesantren di Jombang, Jawa Timur. Sholihah ingin mendobrak tradisi perempuan-perempuan pesantren yang apatis dengan politik dan dunia luar. Dan juga menepis stigma-stigma miring seputar peran perempuan pesantren. Sepeninggal suaminya, tahun 1953, ia kian aktif di berbagai organisasi. Antara lain, menjadi pengurus Nahdlatul Oelama Muslimat (NOM), kini Muslimat NU.
Keep Smile Atau Kupecat dari Pekerjaan!
Senyum adalah sedekah, itu teladan yang dilakukan Rasulullah dan mendapat tempat dalam dunia sekarang sebagai bagian dari strategi untuk merayu konsumen, sayangnya jika kita cermati, senyum para resepsionis, pramusaji ataupun pelayan SPBU hanyalah klise dan tuntutan dari perusahaan mereka bekerja. Buntutnya keramahan yang dipaksakan jelas tak mendapat pahala
Siang itu, perusahaan kami mengadakan syukuran atas launching produk baru, kami meluncur di bilangan pusat jajan dan rumah makan di kota Lunpia untuk kemudian menyantap ayam bakar. Kendaraan kami parkir, lantas kami masuk bersama-sama, mendorong pintu dan tiba-tiba, beberapa pramusaji menyapa kami, sekedar mengucapkan selamat siang lantas dengan senyumnya yang khas mereka mempersilahkan kami duduk.
Belum juga pantat kami menyentuh sofa kursi, pramusaji sejumlah banyaknya kursi yang kami duduki menarik kursi ke belakang, agar kami tak perlu repot dan berpayah-payah, semua sudah dilayani dengan baik. Aku membayangkan suasananya betul-betul seperti seorang raja, pelayan yang murah senyum, cekatan ini bagian dari trik untuk meryu konsumen agar betah.
Dan, gejala ini kami rasa sama, di tiap tempat, perusahaan yang bergerak di bidang jasa akan menggunakan strategi serupa untuk menarik minat pembeli, entah itu pelayan restoran, resepsionis hotel, SPG swalayan semua berlomba untuk merayu konsumen agar membeli sebuah produk ataupun memakai jasa mereka. Salah satu strateginya adalah keharusan untuk tersenyum, karena sering terjadi pegawai yang kurang ramah mengakibatkan konsumen kurang puas, akibat perilaku tersebut karyawan tersebut bisa dikenai sanksi hukum mulai dipotong gaji sampai dipecat dari pekerjaan.
Di sudut jalan-jalan kota Tokyo, di pinggiran jalannya banyak sekali tulisan smile is the best make up, maksudnya kekuatan senyum mampu membuat wajah kita lebih cantik atau lebih ganteng meskipun tanpa make up. Dan, Islam yang selalu mengajarkan untuk selalu tersenyum justru tidak kita sadari, sekarang justru kita mendapat pengalaman langsung melalui cerita tadi bahwa tanpa mengenal ajaran Islam orang Jepang telah mempraktekkan ajaran Islam. Senyum mampu melunakkan hati orang-orang yang berada dekat dengannya.
Rasulullah sendiri jika tersenyum tak akan meneruskannya dengan tertawa terbahak-bahak, melainkan hanya menampakkan giginya yang putih dan rapi.. Jarir bin Abdullah berkata Tidak ada sesuatu yang menghalang Rasulullah s.a.w dariku atau tatkala baginda melihatku semenjak aku memeluk Islam, kecuali pasti dengan tersenyum.” (Riwayat Tirmidzi).
Bahkan jika orang sekarang mempraktekkan senyum dalam rangka untuk menarik konsumen, maka Rasulullah mempraktekkan senyum untuk menarik hati mad’unya. Rasulullah diperintah untuk berlaku lemah lembut kepada pada muallaf yang benar-benar membutuhkannya. Sekali Ia bermuka masam atau bersikap kurang ramah, Allah langsung menegur, seperti yang terdapat dalam surat Abasa. Al Qur’an merekam bagaimana ketika Rasulullah tidak ramah kepada orang buta yang ingin masuk Islam sementara Beliau sendiri sedang melobby pembesar-pembesar Quraisy.
Itulah makanya senyum merupakan bagian dari strategi dakwah Rasulullah, Allah berfirman dalam surat Ali Imran 159, sekiranya Beliau tidak ramah, mad’unya akan banyak yang lari dan menjauhkan diri“ Sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, tentu mereka akan menjauhkan diri dari kamu.” (with pras)
Siang itu, perusahaan kami mengadakan syukuran atas launching produk baru, kami meluncur di bilangan pusat jajan dan rumah makan di kota Lunpia untuk kemudian menyantap ayam bakar. Kendaraan kami parkir, lantas kami masuk bersama-sama, mendorong pintu dan tiba-tiba, beberapa pramusaji menyapa kami, sekedar mengucapkan selamat siang lantas dengan senyumnya yang khas mereka mempersilahkan kami duduk.
Belum juga pantat kami menyentuh sofa kursi, pramusaji sejumlah banyaknya kursi yang kami duduki menarik kursi ke belakang, agar kami tak perlu repot dan berpayah-payah, semua sudah dilayani dengan baik. Aku membayangkan suasananya betul-betul seperti seorang raja, pelayan yang murah senyum, cekatan ini bagian dari trik untuk meryu konsumen agar betah.
Dan, gejala ini kami rasa sama, di tiap tempat, perusahaan yang bergerak di bidang jasa akan menggunakan strategi serupa untuk menarik minat pembeli, entah itu pelayan restoran, resepsionis hotel, SPG swalayan semua berlomba untuk merayu konsumen agar membeli sebuah produk ataupun memakai jasa mereka. Salah satu strateginya adalah keharusan untuk tersenyum, karena sering terjadi pegawai yang kurang ramah mengakibatkan konsumen kurang puas, akibat perilaku tersebut karyawan tersebut bisa dikenai sanksi hukum mulai dipotong gaji sampai dipecat dari pekerjaan.
Di sudut jalan-jalan kota Tokyo, di pinggiran jalannya banyak sekali tulisan smile is the best make up, maksudnya kekuatan senyum mampu membuat wajah kita lebih cantik atau lebih ganteng meskipun tanpa make up. Dan, Islam yang selalu mengajarkan untuk selalu tersenyum justru tidak kita sadari, sekarang justru kita mendapat pengalaman langsung melalui cerita tadi bahwa tanpa mengenal ajaran Islam orang Jepang telah mempraktekkan ajaran Islam. Senyum mampu melunakkan hati orang-orang yang berada dekat dengannya.
Rasulullah sendiri jika tersenyum tak akan meneruskannya dengan tertawa terbahak-bahak, melainkan hanya menampakkan giginya yang putih dan rapi.. Jarir bin Abdullah berkata Tidak ada sesuatu yang menghalang Rasulullah s.a.w dariku atau tatkala baginda melihatku semenjak aku memeluk Islam, kecuali pasti dengan tersenyum.” (Riwayat Tirmidzi).
Bahkan jika orang sekarang mempraktekkan senyum dalam rangka untuk menarik konsumen, maka Rasulullah mempraktekkan senyum untuk menarik hati mad’unya. Rasulullah diperintah untuk berlaku lemah lembut kepada pada muallaf yang benar-benar membutuhkannya. Sekali Ia bermuka masam atau bersikap kurang ramah, Allah langsung menegur, seperti yang terdapat dalam surat Abasa. Al Qur’an merekam bagaimana ketika Rasulullah tidak ramah kepada orang buta yang ingin masuk Islam sementara Beliau sendiri sedang melobby pembesar-pembesar Quraisy.
Itulah makanya senyum merupakan bagian dari strategi dakwah Rasulullah, Allah berfirman dalam surat Ali Imran 159, sekiranya Beliau tidak ramah, mad’unya akan banyak yang lari dan menjauhkan diri“ Sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, tentu mereka akan menjauhkan diri dari kamu.” (with pras)
Hukum Indonesia yang Mata Duitan
Hasil Survei Masyarakat Transparansi Internasional (MTI) kalau polisi dan pengadilan merupakan lembaga paling korup di Indonesia menampar pipi kita, sebab kedua lembaga tersebut adalah payung (pelindung) dalam penegakan hukum tetapi justru didalamnya sangat keropos dan membusuk.
Adalah Masyarakat Transparansi Internasional (MTI) sebuah koalisi global antikorupsi meluncurkan Global Corruption Report tahun 2007 melaporkan Lembaga peradilan di Indonesia bahkan masih menempati posisi yang tertinggi sebagai institusi yang korup. Institusi paling korup adalah Polisi, kemudian lembaga Yudikatif termasuk dunia peradilan dengan elemen-elemennya seperti hakim, jaksa dan sebagainya
Ketika korupsi dalam kembaga hukum seperti peradilan dengan sendirinya akan melumpuhkan lembaga itu sendiri, tidak hanya itu korupsi mengakibatkan dikebirinya hak asasi manusia untuk mendapatkan keadilan hukum, serta pengadilan yang netral alias tidak berpihak
Ketua Transparansi Internasional Huguette Labelle menegaskan, adanya korupsi di lembaga peradilan membuat mereka yang berada dipihak yang benar kehilangan hak untuk didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. Korupsi di lembaga hukum mengakibatkan mahalnya keadilan serta merebaknya kasus suap. Ketika orang miskin ingin memenangkan sebuah perkara, mereka harus menyuap pengadilan di luar batas kemampuan mereka. Suap dapat terjadi di sepanjang proses hukum saat sedang berjalan
Menurut laporan dari 32 negara yang dimuat dalam Global Corruption Report, sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan, menerima atau menolak permintaan banding, mempengaruhi rekan sesama hakim, atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. Sebagian staf pengadilan meminta bayaran untuk pelayanan yang seharusnya bebas biaya. Mereka juga meminta bayaran lebih untuk mempercepat atau memperlambat kasus ataupun menginformasikan nama-nama hakim yang dapat disuap. Proses peradilan tak jelas yang memungkinkan terjadinya penyuapan juga menghalangi media dan kalangan sipil dalam memonitor aktivitas pengadilan dan mengungkap korupsi.
Apakah penyebab korupsi selama ini? Menurut Global Corruption Report 2007 adalah karena sumber penghasilan dan jaminan yang kurang penyebab utama mereka melakukan korupsi. Dibandingkan dengan negara maju yang berpendapatan tinggi, sehingga gaji elemen hukum seperti polisi dan hakim sangat tinggi dan lebih dari cukup untuk harus korupsi lagi, gaji kecil seorang Hakim di Indonesia mengurangi komitmennya untuk menegakkan hukum seadil-adilnya, justru mereka merusak tatanan hukum sendiri dengan terus melakukan korupsi.
Agaknya mafia peradilan ini sulit diberantas karena penegak hukum sanga tegak dengan kekuasaan, bukan rahasia lagi kalau campur tangan politik didalamnya sangat kental, sebagai contoh misalnya, terpilihnya Antasari Azhar sebagai ketua KPK membuktikan, lembaga penegak korupsi itu sedang mengalami pembusukan dari dalam. Track record buruk saat menjadi Kajari, yakni kelambatannya mengeksekusi Tommy Soeharto, serta terbukti menerima suap dari Bupati Muna, Sulawesi Tenggara membuktikan parahnya citra pengadilan, dan korupsi yang sulit mengakar membuat Presiden Yudhoyono akan mengalami kesulitan yang panjang dalam memberantas korupsi seperti yang didengung-dengungkan selama ini (with pras)
Adalah Masyarakat Transparansi Internasional (MTI) sebuah koalisi global antikorupsi meluncurkan Global Corruption Report tahun 2007 melaporkan Lembaga peradilan di Indonesia bahkan masih menempati posisi yang tertinggi sebagai institusi yang korup. Institusi paling korup adalah Polisi, kemudian lembaga Yudikatif termasuk dunia peradilan dengan elemen-elemennya seperti hakim, jaksa dan sebagainya
Ketika korupsi dalam kembaga hukum seperti peradilan dengan sendirinya akan melumpuhkan lembaga itu sendiri, tidak hanya itu korupsi mengakibatkan dikebirinya hak asasi manusia untuk mendapatkan keadilan hukum, serta pengadilan yang netral alias tidak berpihak
Ketua Transparansi Internasional Huguette Labelle menegaskan, adanya korupsi di lembaga peradilan membuat mereka yang berada dipihak yang benar kehilangan hak untuk didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. Korupsi di lembaga hukum mengakibatkan mahalnya keadilan serta merebaknya kasus suap. Ketika orang miskin ingin memenangkan sebuah perkara, mereka harus menyuap pengadilan di luar batas kemampuan mereka. Suap dapat terjadi di sepanjang proses hukum saat sedang berjalan
Menurut laporan dari 32 negara yang dimuat dalam Global Corruption Report, sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan, menerima atau menolak permintaan banding, mempengaruhi rekan sesama hakim, atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. Sebagian staf pengadilan meminta bayaran untuk pelayanan yang seharusnya bebas biaya. Mereka juga meminta bayaran lebih untuk mempercepat atau memperlambat kasus ataupun menginformasikan nama-nama hakim yang dapat disuap. Proses peradilan tak jelas yang memungkinkan terjadinya penyuapan juga menghalangi media dan kalangan sipil dalam memonitor aktivitas pengadilan dan mengungkap korupsi.
Apakah penyebab korupsi selama ini? Menurut Global Corruption Report 2007 adalah karena sumber penghasilan dan jaminan yang kurang penyebab utama mereka melakukan korupsi. Dibandingkan dengan negara maju yang berpendapatan tinggi, sehingga gaji elemen hukum seperti polisi dan hakim sangat tinggi dan lebih dari cukup untuk harus korupsi lagi, gaji kecil seorang Hakim di Indonesia mengurangi komitmennya untuk menegakkan hukum seadil-adilnya, justru mereka merusak tatanan hukum sendiri dengan terus melakukan korupsi.
Agaknya mafia peradilan ini sulit diberantas karena penegak hukum sanga tegak dengan kekuasaan, bukan rahasia lagi kalau campur tangan politik didalamnya sangat kental, sebagai contoh misalnya, terpilihnya Antasari Azhar sebagai ketua KPK membuktikan, lembaga penegak korupsi itu sedang mengalami pembusukan dari dalam. Track record buruk saat menjadi Kajari, yakni kelambatannya mengeksekusi Tommy Soeharto, serta terbukti menerima suap dari Bupati Muna, Sulawesi Tenggara membuktikan parahnya citra pengadilan, dan korupsi yang sulit mengakar membuat Presiden Yudhoyono akan mengalami kesulitan yang panjang dalam memberantas korupsi seperti yang didengung-dengungkan selama ini (with pras)
Langganan:
Postingan (Atom)
